Rabu, 29 September 2010

Menyalurkan zakat (1)

Menyalurkan zakat (1)

Ditulis oleh Dewan Asatidz

Tanya:
Bapak Kyai Yth

Assalamua'alaikum Wr. Wb

Untuk menyalurkan pembayaran zakat maal yang diterima dari upah saya mempunyai beberapa pertanyaan :

1. Apakah pembayaran zakat yang harus dibayarkan itu berupa upah kotor ataukah upah bersih setelah dipotong untuk keperluan sehari-hari seperti pembayaran listrik/telpon, uang sekolah, belanja, cicilan2 rumah/mobil dsb ?
2. Apakah diperbolehkan memberikan zakat mal kepada :
a. Musholla / Mesjid
b. Orang Tua
c. Adik
d. Pembantu ataupun orang tuanya yang hidupnya kekurangan
e. Kepada seseorang yang menjadi pengurus orang tua
asuh yang jelas2 biaya
tsb sangat diperlukan oleh anak2 sekolah
f. Yayasan Yatim Piatu
g. Tukang sampah / kebun

Terima kasih atas jawaban yang diberikan

Wassalam

Teddy

Jawab:

1. Zakat gaji/upah (populer dengan zakat profesi) dilakukan setelah total gaji itu dikurangi biaya kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Jika, misalnya, gajinya Rp. 500 ribu sebulan, dan kebutuhan-kebutuhannya mencapai Rp. 300 ribu tiap bulannya, maka sisanya yang Rp. 200 ribu yang harus dizakati. Boleh saja membayar zakatnya setiap kali menerima gaji (jika memang setiap sisa gajinya/pemasukannya mencapai nisab, yaitu senilai 85 gram emas), dan boleh juga dikumpulkan lebih dulu selama setahun, baru setelah itu dizakati. Jadi, kalaupun sisa gajinya kurang dari nisab (misal saja sisanya tinggal Rp. 50 ribu perbulan), maka jika setelah ditotal selama setahun (Rp. 50 ribu X 12 = Rp. 600 ribu) mencapai nisab, dia berkawajiban membayar zakatnya, yaitu sebesar 2,5%. Jika tidak mencapai nisab, ya tidak.

2. Bisakah zakat disalurkan ke :

a. Mushola atau masjid?
Pembayaran zakat ke masjid dan musalla (rumah ibadah) menjadi perdebatan ulama. Ada yang membolehkan ada yang tidak. Menurut saya, harus lihat-lihat dulu sebelum membayar zakat: kalau memang di lingkungan sekitar kita banyak orang fakir-miskin, maka lebih baik kita mendahulukan mereka. Mereka tentu lebih membutuhkan. Apalagi pada masa krisis seperti sekarang.

b. Orang Tua?
Tidak boleh. Karena orang tua menjadi tanggungan si pembayar zakat (anak). Selama seseorang itu ada yang menanggung nafkahnya, maka tidak boleh diberi zakat. Seperti istri dan anak tidak boleh dizakati suami dan bapaknya.

c. Adik?
Boleh menurut sebagian besar ulama, sebagian lagi tidak membolehkan. Kelompok pertama beralasan karena adik atau kakak tidak termasuk orang yang menjadi tanggungjawabnnya (orang yg membayar zakat), dan yang kedua berpendapat bahwa saudara (adik atau kakak) termasuk orang yang menjadi tanggungjawab si pembayar zakat. Menurut saya tinggal keadaan: jika si adik itu, sesuai perjanjian, menjadi tanggungjawab kakaknya (karena masih belajar, misal), maka si kakak tidak boleh memberikan zakat pada adiknya yang menjadi tanggungannya. Dan jika tidak menjadi tanggungannya, seperti antara kakak dan adik yang telah berumahtangga masing-masing, dan misalnya saja si kakak hidup miskin dan adiknya kaya, maka boleh saja si adik memberikan zakatnya ke kakaknya tersebut. Atau sebaliknya, si kakak yang kaya dan adiknya miskin, maka boleh saja si kakak membayarkan zakatnya ke adiknya yang miskin tsb.

d. Pembantu ataupun orang tuanya yang hidupnya kekurangan? Boleh saja. Namun alasannya bukan karena pekerjaan dia sebagai pembantu, tapi semata-mata karena kekurangan atau kemiskinannya.

e. Kepada seseorang yang menjadi pengurus orang tua asuh yang jelas-jelas biaya tsb sangat diperlukan oleh anak-anak sekolah?
Tidak boleh. Kecuali jika memang pengurus tersebut statusnya sebagai panitia zakat. Misalnya lembaga panti asuhannya telah mengumumkan bahwa lembaganya menerima pembayaran zakat, untuk kemudian disalurkan ke anak asuhnya. Jadi saat membayarkan zakat kepada orang tersebut, harus berdasar kesepakatan bahwa dia menerima zakat atas nama pengurus/panitia zakat panti asuhan tersebut. Ini untuk menghindari penyalahgunaan zakat.

f. Yayasan Yatim Piatu?
Boleh. Asal jelas bahwa yayasan tersebut menyalurkan hasil zakat kepada para anak asuhnya atau orang lain yang berhak menerima zakat. Jadi ada panitia yang telah ditunjuk untuk menangani penerimaan zakat.

g. Tukang sampah / kebun?
Boleh saja, asal dia tergolong orang miskin. Jadi, sekali lagi, penerima zakat itu tidak dipandang dari pekerjaannya, namun dari keberadaannya, miskin atau tidak. Sehingga jika ada seorang tukang sampah/kebun atau pembantu rumah tangga, namun ternyata kehidupannya kecukupan, ya tidak boleh menerima zakat.


Pertanyaan senada, mengenai zakat profesi, datang dari Saudara Bambang Winarko berikut ini:

Seandainya saya berpenghasilan 500 ribu per bulan, kemudian setiap bulannya saya bisa menabung RP. 50 ribu berarti dalam 1 tahun saya mempunyai tabungan Rp. 600 ribu. Apakah perhitungan zakat saya berdasarkan 50 ribu kali 1 tahun (tabungan saya dalam satu tahun) atau 500 ribu kali 1 tahun (penghasilan saya 1 tahun).

Terima kasih
Bambang Winarko

Jawab:

Sama dengan jawaban di atas, perhitungan zakat yang harus dikeluarkan adalah berdasar tabungan, Rp. 50 ribu X 12 = Rp. 600 ribu.



Menyalurkan zakat (2)
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Pak Ustadz,
Saya ingin bertanya tentang zakat. Saya seorang karyawan, sudah berkeluarga, tinggal di Surabaya. Alhamdulillah, kami sekeluarga dikaruniai Allah rezeqi yang banyak, a.l.:
- 2 buah rumah, satu di Jakarta (dikontrakkan, nilai jual rumah sekitar 100 juta, nilai kontrak 3,5 juta/tahun) dan satu lagi di Surabaya (ditempati sendiri, nilai jual sekitar 100 juta).
- 1 buah mobil senilai 40 juta.
- Perabot rumahtangga senilai 10 juta.
- Sepeda motor & sepeda senilai 4 juta
- Perhiasan emas & permata sekitar 25 gram
- Piutang 10 juta
- Hutang Bank 20 juta
- Tanah kebun senilai 20 juta
- Gaji sekitar 5 juta / bulan
- Kebutuhan hidup 2,5 juta/bulan
- Bayar cicilan hutang 1 juta/bulan

Pertanyaan:
1. Bagaimana cara menghitung zakat keluarga kami?
2. Apakah rumah yang ditempati maupun yang dikontrakkan, mobil, perabot, dsb. juga wajib dizakati?
Terima kasih atas penjelasannya.

Suparno

Jawab:

Untuk menentukan wajib-tidaknya membayar zakat, pertama, harus memisah-misahkan mana jenis harta yang wajib dizakati dan mana yang tidak. Kedua, menentukan besar zakat yang harus dikeluarkan, dengan cara menjumlah semua harta kekayaan yang wajib dizakati dan menguranginya dengan total pengeluaran selama setahun. Selanjutnya, setelah diketahui jumlah akhir, jika memang jumlah tersebut lebih dari nisab (senilai 85 gram emas) atau minimal sama dengan nisab maka harus dikeluarkan zakatnya, sebesar 2,5 %.

Mengenai harta kekayaan yang bapak miliki itu, demikian:

1. Gaji bersih sebesar Rp. 5 juta/bulan. Setelah ditotal setahun dan dikurangi kebutuhan hidup per bulan, gaji tinggal Rp. 30 juta. Perinciannya: total gaji selama setahuan Rp. 5 juta X 12 = Rp. 60 juta.
2. Dari dua rumah yang bapak miliki, hanya yang dikontrakkan saja yang wajib dizakati, yaitu pemasukannya sebesar Rp. 3,5 juta setahun. Walaupun pemasukan dari pengontrakan rumah ini kurang dari nisab (senilai 85 gram emas), ia tetap saja harus dizakati dengan cara ditambahkan ke sisa gaji setahun: Rp. 30 juta + Rp. 3,5 juta = Rp. 33,5 juta. Dalam menerangkan kekayaan yang lain yang bapak miliki, seperti tanah pekarangan, mobil, sepeda, dan rumah, ada yang kurang detail.
3. Piutang sebesar Rp. 10 juta, kalau memang masih diharap kembali (bukan hutang mati) juga harus dizakati. Jika tidak ada harapan bisa kembali (hutang mati), karena yang berhutang bangkrut misal, maka tak wajib dizakati.
4. Tanah kebun, kalau memang tanah itu tidak menghasilkan apa-apa, atau ada tanam-tanaman dan pepohonan namun tidak menjadi sumber penghidupan, maka masih harus dilihat: jika tanah itu dimaksudkan untuk dihuni maka tidak wajib dizakati. Namun jika dimaksudkan untuk dijual, maka status tanah tersebut menjadi barang dagangan yang harus dizakati (setelah mencapai masa setahun). Sama halnya dengan membeli tanah dengan niat dijual kembali. Zakatnya sebesar 2,5 % dari harga jualnya. Dan jika tanah itu berupa perkebunan atau pertanian maka zakat yang harus dikeluarkan adalah zakat hasil perkebunan, jika hasil panennya mencapai nisab.
5. Perabotan rumah tangga ada dua macam. Ada yang sifatnya menjadi kebutuhan, seperti meubel, almari, barang-barang elektronik dan semacamnya yang menjadi kebutuhan, dan ada lagi yang hanya merupakan aksesoris (seperti lukisan, barang-barang antik, dan semacamnya). Yang terakhir ini termasuk jenis harta harus dizakati, dan jika nilai jualnya mencapai nisab (senilai 85 gram emas) harus dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
6. Mobil tidak wajib dizakati, jika memang menjadi kebutuhan sendiri. Namun jika disewakan, maka hasil penyewaannyalah yang harus dizakati. Kalaupun kurang satu nisab (selama setahun), ia harus dikumpulkan dengan harta kekayaan lainnya.
7. Sepeda motor dan sepeda tidak harus dizakati, jika memang digunakan sendiri. Jika disewakan, yang dizakati adalah pemasukannya.
8. Emas yang 25 gram tersebut, jika merupakan perhiasan yang terpakai (oleh istri, misal), maka ia tak wajib dizakati. Namun jika merupakan harta simpanan, ia harus dizakati. Kalaupun kurang dari satu nisab, mengeluarkan zakatnya dengan cara mengumpulkannya dengan harta lainnya.

Langkah selanjutnya, menjumlah keseluruhan harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Jumlah total pemasukan selama setahun sebesar Rp. 63,5 juta. Dan jika piutang bapak itu adalah "piutang hidup" (yang masih bisa diharap lunasnya) maka harta bapak menjadi Rp. 73,5 juta.

Jumlah tersebut setelah dikurangi total pengeluaran selama setahun Rp. 30 juta dan hutang pada bank sebesar Rp. 10 juta, harta bapak tinggal Rp. 33,5 juta.

Dari total jenis kekayaan yang wajib dizakati, dapat diketahui bahwa harta bapak jauh di atas nisab, yaitu senilai 85 gram emas = sekitar Rp. 6.885.000.

Dengan demikian, jika benar harta bapak dalam setahun itu sebesar Rp. 33,5 juta, maka harus dikeluarkan 2,5 %-nya, yaitu sebesar Rp. 837.500.

Tapi perlu diingat, bapak wajib mengeluarkan zakat tersebut setelah harta kekayaan sebesar itu memang telah bapak miliki selama setahun.***


Menyalurkan Zakat(3)
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Tanya:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Redaksi Pesantren Virtual, saya mau menanyakan bagaimana cara perhitungan zakat mal, dari penghasilan saya dibawah ini.
Gaji saya tiap bulan = Rp. 1.900.000,- + THR = Rp 1.900.000,-
>>>13 x Rp. 1.900.000,- = Rp. 24.700.000,- setahun.

Pengeluaran rata - rata tiap bulan:

1. Hutang ( kewajiban thd bank) = Rp. 350.000,-
2. Hutang ( thd pihak lain ) = Rp. 225.000,-
3. Bayar sekolah dan kursus 2 orang anak = Rp. 150.000,-
4. Bayar telpon = Rp. 75.000,-
5. Bayar Cicilan rumah = Rp. 1.100.000,-/ tahun.
6. Bayar Tk Cuci = Rp. 25.000,-
7. Kewajiban di RT = 10.000,-

Saya mempunyai alat rumah tangga (TV, Radio, Kulkas, dll) senilai sekitar Rp. 2.500.000,- (harga waktu itu).

Pertanyaannya adalah:

1. Poin mana saja yg dapat menambah dan atau mengurangi kewajiban zakat?
2. Harta yg diam ( TV, peralatan rumah tangga ) apakah dinilai sewaktu beli atau ada perhitungan penyusutan?
3. Saya juga memberikan santunan kpd orang tua saya yg tidak serumah dgn saya, apakah itu mengurangi perhitungan zakat saya?
4. Kira - kira berapa Zakat Mal yg harus saya keluarkan dgn keadaan saya diatas?
5. Saya mengharapkan dapat mengeluarkan zakat mal saya pd bulan Ramadhan, tapi seandainya saya tahu dan ternyata pd bulan yg dimaksud banyak pengeluaran yg saya lakukan, mana yg diutamakan memenuhi kewajiban saya pd bulan itu atau membayar zakat? Sebaiknya memang zakat dikeluarkan ( dicicil ) setiap bulan, tapi sampai saat ini saya masih bingung menghitungnya.

Atas dijawabnya pertanyaan tsb saya mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Toto Bekasi Timur

Jawab:

Dari paparan Anda, kewajiban zakat yang harus Anda keluarkan hanyalah 2,5% dari total pemasukan Anda (Rp. 24.700.000) dikurangi pengeluaran selama setahun (Rp. 11.120.000) sama dengan Rp. 13.580.000. 2,5%-nya ialah Rp. 339.500.

Yang belum Anda sebutkan adalah berapa besar nafkah yang Anda kirimkan kepada orang tua. Kalau sudah diketahui pasti, tinggal memasukkannya ke dalam daftar pengeluaran. Berapa besar setahuannya. Misalnya saja, secara rutin Anda mengirim wesel untuk orang tua sebesar Rp. 200.000 tiap bulan. Maka total pengeluaran Anda selama setahun menjadi Rp. 13.520.000. Sehingga zakat yang harus Anda keluarkan berkurang menjadi Rp. 279.500.

Zakat sebesar itu, jika memang ternyata Anda tidak mempunyai sumber pemasukan atau harta simpanan lainnya. Kalau memang mempunyai, maka tinggal memasukkannya ke daftar pemasukan selama setahun, di samping yang sudah Anda sebut (Rp. 24.700.000).

Saya kira ini sudah menjawab pertanyaan Anda yang no 1, 3, dan 4.

Mengenai perabotan rumah tangga itu tidak wajib dizakati. Jadi, yang dimaksud harta yang diam itu adalah harta kekayaan yang tidak berujud barang yang ada gunanya, seperti tabungan di bank, dan semacamnya. Adapun barang-barang yang ada gunanya, seperti mobil pribadi, TV, kulkas, dan semacamnya tidak perlu dizakati.

Soal waktu, kapan mengeluarkan zakat? Perlu diketahuai, langkah pertama jika hendak mengeluarkan zakat kekayaan seperti ini adalah mengetahui waktu: sejak kapan Anda mulai memiliki harta itu. Kalau profesi, ya sejak kapan Anda mulai bekerja. Misal saja, Anda bekerja sejak Juli 1998. Maka Anda harus mengeluarkan zakatnya setahun berikutnya, pada Juli 1999. Untuk tahun berikutnya pada Juli 2000. Begitu seterusnya. (Catatan: sebenarnya dalam hal zakat ini, harus berpedoman kalender Hijriyah. Tapi antara Hijriyan dan Masehi terpaut hanya kira-kira setengah bulan, maka tinggal mengkira-kira saja. Tiap tahunnya dikurangi kira-kira setengah bulan).

Jadi jangan ada anggapan bahwa mengeluarkan zakat kekayaan itu lebih baiknya pada bulan Ramadhan. Kalau sedekah, memang iya, kita dianjurkan sedekah sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan ini. Namun, harus diingat zakat itu berbeda dari sedekah. Zakat hukumnya wajib, yaitu mengeluarkan bagian tertentu dari harta kita, setelah memenuhi syarat-syarat wajib zakat (nisab, masa setahun, hak milik penuh, dll). Sedang sedekah hukumnya sunat, tidak harus memenuhi syarat-syarat wajib zakat. Makanya orang yang hanya memiliki 1 juta, ia mau bersedekah 200 ribu lebih besar pahalanya ketimbang orang yang bersedekah 200 ribu juga padahal ia memiliki 5 juta.



Menyalurkan Zakat(4)
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Tanya:

Saya mulai bekerja tahun 1994, sementara saya mulai bayar zakat tahun 1988 karena mulai tahun 1988 saya benar2 bisa menabung secara teratur. Zakat saya bayarkan perbulan, yaitu 2.5% dari pemasukan minus pengeluaran paling minim.
Yang saya tanyakan:

1. Dari periode 94-98 saya hanya sesekali menabung, jumlahnya tidak tetap. Apakah sekarang saya harus membayar zakat yang seharusnya saya bayar dari 94-98 ??
2. Menjadi orang tua asuh anak tidak mampu apakah sesuai dengan sasaran zakat??
3. Harta (misalnya rumah, tabungan) apakah harus dizakati 2 kali?? Hal ini mengingat bahwa barang2 tsb dibeli dengan uang tabungan, dimana tabungan berasal dari sisa pemasukan yg telah dikeluarkan zakatnya. Maaf, saya menghitung zakat dengan pemasukan minus pengeluaran biaya hidup yang paling minim.
4. Apakah cara menghitung zakat saya dapat dibenarkan? Mengingat saya tidak memasukkan kiriman ke orang tua, cicilan KPR atau hutang yang lainnya ke dalam pos pengeluaran.

Terima kasih.
Wassalam,
IP


Pak Ustadz, misalnya saya memiliki uang di bank 100 juta. Uang ini dulu hasil dari gajian bulanan dan berkebun yang telah saya zakati kemudian saya tabung di bank. Pertanyaan saya adalah apakah uang tersebut sekarang harus saya zakati lagi atau hanya bunganya saja yang wajib saya zakati. Mohon penjelasan, terima kasih.
Mohon saya juga dijadikan anggota mailing list.

Susilo


Jawab:

Untuk menentukan wajib dan tidaknya seseorang membayar zakat hartanya, ada prinsip nisab. Nisab itu senilai dengan 85 gram emas atau sekitar Rp 6,8 juta. Jadi, kalau harta Anda tidak mencapai nisab pada tahun-tahun 1994-1998 maka tidak wajib zakat. Misalnya dalam pada tahun 1995 (setahun setelah Anda bekerja) tabungan Anda tidak mencapai nisab, ya tidak wajib membayar zakat.

Anda baru diwajibkan membayar zakat di saat setahun setelah simpanan Anda mencapai nisab. Misalnya pada Agustus 1996 simpanan Anda telah mencapai nisab, maka Anda baru wajib mengeluarkan zakatnya pada Agustus 1997. Seterusnya, untuk kedua kalinya, pada Agustus 1998. Demikian seterusnya. Jadi, kalau benar di antara 1994-1998 harta Anda pernah mencapai nisab, dan stabil terus bisa bertahan bahkan terus berkembang maka sejak saat itulah Anda harus mengeluarkan zakat. Kalau saat itu belum, ya harus diqadha'. Tinggal sekarang Anda ingat-ingat, kira-kira sejak kapan simpanan Anda telah mencapai nisab.

Perlu diingat pula, kalaupun sejak 1998 Anda telah mampu teratur menabung, apakah tabungan Anda itu mencapai nisab atau belum? Sebab kalau belum, maka Anda tidak wajib membayar zakat.

***
Perihal menjadi orang tua asuh anak yang tak mampu, benar itu sesuai dengan sasaran zakat. Tapi setiap tindakan itu tergantung niatnya. Soalnya, di samping zakat (yang wajib hukumnya), ada juga sedekah (yang tidak wajib hukumnya). Boleh saja biaya yang Anda keluarkan untuk menyekolahkan anak yang tak mampu itu Anda niati sebagai pembayaran zakat. Karenanya kewajiban zakat Anda telah gugur. Kalau tidak diniati, ya hanya sekedar menjadi sedekah.

***
Termasuk prinsip dalam penentuan dan perhitungan zakat harta ini adalah menjelangnya masa setahun. Maksudnya, zakat harta itu harus dikeluarkan tiap tahunnya. Kalaupun ada istilah dua kali dalam melakukan zakat, itu berarti 2 kali dalam setahun. Seperti kata Nabi "laa tsanaa fi al-shadaqah" (tidak ada pengulangan 2 kali dalam shadaqah [maksudnya zakat]). Ini jangan sampai terjadi.

Jadi, misalnya Anda mempunyai simpanan sebesar Rp. 10 juta, setahun lamanya, sejak Oktober 1999. Maka Anda wajib mengeluarkan zakatnya pada Oktober 2000, sebesar 2,5%-nya. Nanti pada Oktober 2001 Anda harus mengeluarkan zakatnya lagi, karena telah menjelang setahun sejak Oktober 2000.

Catatan: rumah pribadi, yang Anda diami tidak wajib dizakati. Begitu juga semua perabot rumah yang masih dipergunakan, mobil pribadi, perhiasan yang dipakai oleh istri Anda, semua ini tidak wajib dizakati. Pada prinsipnya, semua harta yang masih difunsikan sendiri itu tidak ada zakatnya.

***
Salah, kalau Anda tidak memasukkan beberapa pengeluaran yang Anda sebut itu ke dalam daftar pengeluaran. Semua nafaqah (kiriman) untuk orang tua, dan pengeluaran-pengeluaran lain yang memang wajib dikeluarkan, menjadi kebutuhan, masukkan saja ke daftar pengeluaran. Sampai akhirnya benar-benar jelas berapa besar sisa harta Anda dalam setahun, setelah dikurangi pengeluaran selama setahun. Kalau sisanya masih --minimal-- menyamai nisab, maka Anda termasuk orang yang wajib zakat.

***
Berdasar prinsip "Tahunan", yakni setiap satu tahun zakat harus dikeluarkan, cukup untuk menjawab pertanyaannya Mas Susilo.

Misalnya saja, dari hasil panen 10 hektar sawah/kebun yang kita miliki telah kita keluarkan zakatnya tiap kali panen. Dan setiap kali panen kita bisa menyisihkan Rp. 1 juta untuk ditabung. Maka status uang Rp. 1 juta ini adalah sebagai harta simpanan, yang wajib dizakati.

Wallaahu a'lam.


Menyalurkan zakat (5)
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Tanya:

Pak Ustadz yth, Beberapa hari lagi saya menjalani pensiun dini, dengan mendapat pesangon yang cukup besar. Uang tesebut akan saya depositokan, uang yang diperoleh akan saya manfaatkan sebagai pengganti gaji saya per bulan.
Pertanyaan saya:

1. Apakah sebelum didepositokan harus dikeluarkan zakatnya terlebih dahulu?
2. Bunga per bulan yang didapat, apakah juga harus dikeluarkan zakatnya lagi setiap bulan, atau menunggu sampai nisabnya?
3. Apabila bunga yang didapat tidak mencukupi untuk keperluan hidup sehari-hari apakah juga harus dikeluarkan zakatnya?

Saya menunggu jawaban ustadz (mohon segera dijawab).
Sekian terimakasih banyak.

Ny. Syahrudin - Palembang

Jawab:

Ibu Syahrudin,
Ada beberapa prinsip zakat mal (harta). Di antaranya, harta harus mencapai nisab (setelah dikurangi kebutuhan-kebutuhan pokok). Nisabnya senilai 85 gram emas. Kewajiban zakatnya sebesar 2,5 persennya. Karenanya bila kekayaan kita, setelah dikurangi biaya kebutuhan pokok, ternyata tidak mencapai nisab, ya tidak wajib zakat.

Kedua, harta itu harus mencapai setahun umurnya. Jadi misal punya simpanan Rp 10 juta (lebih besar dari 85 gram emas), tapi umur simpanan tsb belum mencapai setahun (terhitung sejak memiliki pertama kali, tidak dihitung dari hari raya Idul Fitri) maka belum wajib zakat. Tapi, misal, ketika simpanan yang mencapai nisab itu hampir mencapai setahun (sebut saja kurang setengah bulan) itu sengaja dibelanjakan hingga kurang dari nisab, maksudnya biar tidak kena wajib zakat, spt ini tidak boleh, dan dia tetap kewajiban mengeluarkan zakat. Lain halnya bila dalam membelanjakan uangnya itu (hingga kurang dari nisab) karena ada kebutuhan yang mendesak. Seperti ini kewajiban zakatnya gugur.

Jika, misal, Ibu lupa tepatnya sejak kapan simpanan Ibu mencapai nisab, ya, dicari mantapnya saja: sejak kapan simpanan Ibu mencapai nisab.

Ketiga, kewajiban mengeluarkan zakat ini tiap tahun. Jadi, walau, misal, Ibu sudah mengeluarkan zakat utk tahun kemarin, dan harta itu sudah memasuki usia tahun kedua, nanti setelah tahun kedua itu genap setahun Ibu wajib mengeluarkan zakat lagi.

Keempat, harta yang wajib dizakati adalah harta yang nganggur dan bisa dikembangkan. Harta yang terpakai, spt uang yang digunakan untuk modal usaha, tidak wajib dizakati. Yang dizakati adalah keuntungannya/pemasukannya. Jadi baik itu berupa deposito, bunga dari deposito tsb, gaji, atau keuntungan dari usaha lain, semua wajib dizakati.

Itu beberapa prinsip penting yang berkaitan dengan zakat mal. Masih ada beberapa prinsip lagi. Tapi itu saya kira sudah cukup utk menjawab keraguan Ibu.

Jadi, kalau memang uang pesangon Ibu itu ditambahkan gaji perbulan sebelumnya selama setahun, dan jika setelah dikurangi kebutuhan pokok selama setahun masih mencapai nishab, baru Ibu wajib mengeluarkan zakat, yaitu sebesar 2,5 persen.


Arif Hidayat

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Free Hosting

Cara Daftar Gratis ZIDDU
[ KLIK DISINI ]

Counter

Kumpulan Hadits Nabi SAW Lengkap